AI vs Hype — Kapan Benar-Benar Berguna.
Bukan semua masalah butuh AI. Ini framework sederhana untuk decide kapan AI worth dipakai.
Framework 3 pertanyaan
Sebelum pakai AI untuk apapun, tanya:
- Apakah task-nya repetitive? (AI bagus untuk hal yang berulang)
- Apakah output-nya bisa di-review manusia? (AI jelek untuk keputusan high-stakes tanpa oversight)
- Apakah ada data/input yang cukup? (AI butuh context untuk perform well)
Kalau 3 jawaban "ya" → AI likely worth it.
Contoh: AI berguna
- Generate draft konten social media (review manusia sebelum publish)
- Summarize email/meeting notes
- Automation data entry dari form ke spreadsheet
- Customer service FAQ bot untuk pertanyaan repetitif
Contoh: AI overkill
- Keputusan hiring/firing
- Diagnosis medis tanpa dokter
- Legal advice tanpa lawyer review
- Task kreatif yang butuh brand voice sangat spesifik (tanpa fine-tuning)
Di pelatihan Hi Aigen
Modul "AI Strategy" fokus ke use case selection — karena skill paling valuable bukan "tahu semua tool", tapi tahu kapan pakai dan kapan tidak.
AI powerful, tapi bukan silver bullet. Pemula yang paham batasan AI lebih valuable dari yang cuma tahu cara generate text.
